PT.HIKARI MULTI DINAMIKA PH 021-7668477

Edam atau Damar,tempat memancing ikan kerapu, baronang, kuwe dan ekor kuning

pulau edam

Pulau Edam /Pulau Damar

Pulau Edam disebut juga sebagai pulau Damar besar karena di pulau itu banyak terdapat pohon damar.  Didekat nya terdapat pulau yang lebih kecil yang disebut Damar kecil atau orang Jakarta menyebutnya dengan pulau Monyet.   pulau Damar kecil atau pulau monyet ini terkenal sebagai tempat memancing, banyak terdapat ikan kerapu, baronang, kuwe dan ekor kuning.

Pulau Damar besar terdapat mercusuar yang disebut Vast Licht dengan tinggi 65 meter.  Menurut catatan sejarah mercusuar dibangun pada tahun 1879, atas izin Z.M. Willem II.    Pulau Edam / Damar saat ini merupakan salah satu pulau yang tak berpenghuni, hanya terdapat penjaga mercusuar yang siap membantu anda untuk memberikan informasi mengenai pulau.

Kejayaan pulau Edam / Damar

Pulau Edam 1685

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda Pada tahun 1685 pemerintah Hindia Belanda memberikan pulau ini kepada gubernur Jenderal Camphuijs untuk dijadikan kebun yang indah.  Camphuijs mendirikan sebuah rumah bertingkat dua dengan memiliki koleksi fauna dan flora langka dalam kebun sekitar rumah peristirahatan dan sangat terkenal dikala itu karena merupakan ‘taman Jepang’ terbesar di luar negara Jepang.  Camphuijs menanam pohon-pohon bonsai di antara batu-batu wadas, membangun jembatan-jembatan kecil dan air terjun yang disinari oleh lanteren batu gaya Jepang.

Pulau Edam th 1705

Tamu-tamu yang berkunjung ke pulau dijamu dengan makanan Jepang.  dan saat tahun 1882 Pulau Edam menjadi sebagai salah satu tempat paling menyenangkan di dunia.  Saat ini kondisi flora pulau Edam / Damar masih sangat bervariasi.  Ketika Gubernur Jenderal van Riebeck tidak tertarik pada pulau Edam, maka pemerintah mengambil alih kembali pulau ini tahun 1705.

Awal abad ke-18 didirikan bengkel pembuatan tambang dan penggergajian kayu,  dan sebagai tempat para tawanan menjalani kerja paksa.  Diantara tawanan di pulau Edam itu terdapat pangeran dari Palembang dan beberapa orang ningrat.  Perlakuan yang kasar dan iklim buruk menyebabkan pemberontakan para tawanan, yang disusul dengan penindasan lebih kejam lagi.

Pulau Edam th 1715

Pada 1715,  tiga puluh budak Bali mengamuk. Serangan orang Bugis ditangkis pada tahun 1792, namun Inggris merusak semuanya pada awal abad ke-19. Pada awal abad itu juga perangkat wadah api yang menggunakan damar menjadi tanda pada kapal-kapal yang berlayar waktu malam. Kubu-kubu pengintai, yang dibangun di pantai semasa pendudukan Jepang, kini masih dapat dilihat.

Pulau Edam juga merupakan merupakan tempat pembuangan Wali-Sultan Ratu Syarifa Fatimah, Syarifa Fatimah adalah putri dari Sayid Ahmad dari Banten, kemudian menjadi anak angkat Lampidja, kapten orang Bali. Sebelum menjadi permaisuri Sultan Banten, dia pernah bersuami Wan Mohammad, saudara kapten Melayu yang kaya raya. Fatimah dikenal sebagai perempuan yang terdidik dan pintar, yang mudah dan bebas bergaul dengan para pejabat tinggi.  Kesewenangan Fatimah semakin menjadi saat pada 1749 dia berkenalan dengan Gubernur-jenderal von Inhoff, kemudian ia menjual hasil lada hanya pada VOC. Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat Banten dan membangkitkan pemberontakan Kiai Tapa (1750). Pada 1752 kemerdekakan Banten habis karena keangkuhan Fatimah. Saat von Inhoff meninggal pada 1750, Ratu Fatimah terpaksa menyingkir dari negerinya. Fatimah meninggal pada 1751 dalam kondisi sebagai orang buangan di Pulau Edam (daerah kepulauan seribu).

Sumber:

  • Ratu Syarifa Fatima – http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2527/Ratu-Syarifa-Fatimah
  • Data sejarah masa kehancuran kesultanan Banten –
  • Majalah arkelogi Indonesia -http://hurahura.wordpress.com/2011/07/29/pulau-edam-1/

0


You might also likeclose